Transformasi Digital Sektor Pendidikan Untuk Antisipasi Hilangnya Dua Miliar Pekerjaan Pada Tahun 2030

Perubahan dalam segi digital bagi ekonomi dan sistem sosial dipengaruhi oleh Revolusi Industri Ke-4, akibatnya terjadi pergeseran cara kita bekerja.  Ada sebuah fakta menarik yang memprediksi sekitar dua miliar pekerjaan akan hilang pada tahun 2030 dan sebuah penelitian menunjukkan bahwa 65% anak-anak yang saat ini sedang bersekolah akan bekerja pada sektor-sektor pekerjaan yang belum ada saat ini.

The Future Jobs, sebuah laporan yang dirilis The World Economic Forum membahas implikasi perubahan yang dihadapi ketenagakerjaan, keterampilan, dan rekrutmen. Dampak transformasi digital relevan dengan perguruan tinggi. Laporan McKinsey mercatat bahwa gelar menjadi “penanda” untuk perekrutan, bahkan di era digital. Namun, sepertinya tidak ada hubungan langsung antara tingkat perguruan tinggi dan kesuksesan profesional.

Sebuah penelitian menginformasikan sekitar 34% responden melihat teknologi internet mobile dan komputasi awan menjadi pendorong utama perubahan teknologi, yang memungkinkan lebih efisiennya penyampaian layanan dan kesempatan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Sementara 26% lainnya melihat bahwa kemajuan dalam kekuatan komputasi dan big data akan menjadi faktor pendorong perubahan pada dunia kerja, saat organisasi —dan dengan perluasan ekonomi—berusaha untuk mewujudkan potensi penuh teknologi dalam membantu memahami banyaknya data yang sangat jumlahnya. Hal ini jelas menunjukkan perlunya institusi pendidikan untuk membekali siswa dengan keahlian yang tepat demi memenuhi tuntutan masa depan.

Adanya kesenjangan keterampilan saat ini adalah kurangnya keterampilan khusus. Menurut studi Manpower Group yang dilakukan pada tahun 2016, ketidakmampuan untuk menemukan individu yang tepat bagi sebuah pekerjaan adalah masalah serius keenam, dari sembilan masalah ekonomi global terbesar saat ini.

Sekitar 40% perusahaan dunia melaporkan kurangnya keterampilan khusus, yang akhirnya berdampak pada ketersediaan pelamar, keterampilan teknis, dan pengalaman; yang menjadi alasan mengapa banyak posisi disebuah perusahaan yang belum terisi.

Di era digital, sumber daya paling berharga adalah data. Dengan naiknya kebutuhan akan data, maka permintaan akan kompetensi baru—analisis, pembelajaran mesin, kecerdasan bantuan, keamanan siber, dan lainnya—juga akan datang.

Yang menjadi sorotan adalah apakah institusi pendidikan saat ini sudah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masa depan?

Di akhir tahun 2016, dilakukan sebuah studi di 13 negara dengan hampir 1.500 pemimpin bisnis untuk lebih memahami dampak transformasi digital di organisasi mereka. Studi ini melibatkan 265 pemimpin dari sektor pendidikan.

Studi dari Microsoft Asia Digital Transformation menemukan bahwa 87% pemimpin di industri pendidikan sepakat bahwa organisasi mereka perlu ditransformasi menjadi bisnis digital untuk memungkinkan pertumbuhan dimasa mendatang, namun hanya 23% yang telah memiliki strategi untuk menghadapi perubahan ini.

Prioritas nomor satu dalam proses transformasi digital mereka adalah memberdayakan baik karyawan fakultas maupun non-guru, dan memberi mereka alat terbaik untuk melibatkan siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Namun, hanya 39% responden berpendapat bahwa institusi mereka memiliki teknologi yang saling terkoneksi sehingga memungkinkan karyawan tersebut bekerja di luar kampus.

Hal ini diikuti dengan melibatkan siswa sebagai bagian dari proses transformasi, di mana sekolah mengadopsi teknologi digital, konten interaktif dan personal, dan mempersiapkan siswa dengan keterampilan agar berhasil di dunia kerja yang berdinamika saat ini.

Ketika ditanya tentang faktor-faktor yang menghambat proses transformasi digital mereka, responden menyoroti masalah ancaman siber dan keamanan, kurangnya keterampilan kepemimpinan organisasi, dan kurangnya tenaga kerja digital yang terampil, sebagai penghalang utama. Para pendidik dengan jelas menyetujui adanya peran integral yang dimainkan teknologi dalam meningkatkan pedagogi.

Survei yang dilakukan Microsoft Asia EduTech pada tahun 2016 menemukan bahwa 95% responden sepakat mengenai pentingnya teknologi dalam sistem pendidikan saat ini. Lebih dari setengah responden yang merupakan pendidik. Mengidentifikasikan kurangnya pelatihan sebagai tantangan utama bagi mereka untuk mengoptimalkan teknologi di dalam kelas.

Hal ini mengarah pada kesenjangan antara mengakui kebutuhan untuk bertransformasi, dan ketersediaan strategi yang jelas untuk bergerak maju. Bagaimanapun, sekarang adalah waktu bagi institusi pendidikan untuk menjadikan organisasi mereka menjadi organisasi digital, agar tetap relevan dan memastikan bahwa para siswa siap untuk menghadapi perubahan kebutuhan dari generasi kerja mendatang.

Transformasi digital untuk sektor pendidikan, harus dimulai dengan mengetahui cara orang belajar. Hal ini lebih dari mengimplementasikan teknologi, tetapi juga membahas perubahan paradigma yang dibawa oleh Revolusi Industri Ke-4.

Transformasi digital perlu dimulai dengan memungkinkan para pendidik untuk menciptakan lingkungan belajar baru—yang memungkinkan kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran.  Intinya, slogan untuk kelas baru seharusnya “gagal lebih cepat, gagal dengan cepat, dan sering gagal”.

Microsoft berkomitmen memberdayakan setiap siswa  agar meraih lebih banyak. Bagaimana seharusnya hal ini berlangsung? Pertama adalah untuk memberdayakan setiap insitusi pendidikan dengan memberikan silabus dan pelatihan yang tepat bagi siswa dan guru, sehingga mereka dapat menciptakan dunia masa depan.

Lihatlah secara holistik di empat pilar berbeda: melibatkan siswa, memberdayakan pendidik, mengoptimalkan operasi, dan mentransformasi pembelajaran—yang kesemuanya didukung oleh komitmen mendasar kami untuk memberikan program terpercaya yang dapat dijalankan oleh organisasi tersebut.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana teknologi ikut bermain dalam penawaran institusi pendidikan yang mulai mengadopsi teknologi digital? Jawabanya adalah Meningkatkan efisiensi dan kinerja, Meningkatkan hasil pembelajaran dan keberhasilan siswa dan Memajukan penelitian dan inovasi.

Dengan berfokus pada ketiga bidang ini, institusi akan dapat memanfaatkan efisiensi biaya, menghemat waktu sembari memperluas akses belajar yang terjangkau, mendorong pembelajaran yang lebih efektif melalui keterlibatan antara siswa dan guru yang lebih baik. Tujuan utamanya adalah memungkinkan kolaborasi penelitian yang lebih kuat pada seluruh fakultas dan institusi.

Era digital telah dating dan akan terus berlanjut, dampaknya akan semakin meluas. Kami mendorong para pemimpin pendidikan untuk memikirkan dan berstrategi tentang tujuan dan sasaran transformasi digital mereka saat ini. Tidak hanya untuk memberdayakan pendidik dengan lebih baik, namun juga melibatkan siswa agar mereka “siap menghadapi masa depan”, dan terlengkapi dengan baik untuk berpartisipasi dalam dunia yang ditransformasikan oleh teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *