Pebisnis Sukses di Era Digital Harus Memanfaatkan Teknologi

Keberanian mengambil resiko telah menjadi driver utama budaya kepemimpinan unggul di era digital. Di era dimana perubahan berlangsung sedemikian cepat memastikan bahwa satu-satunya strategi yang salah adalah tidak berani mengambil resiko itu sendiri.

Mark Zuckerberg, CEO of Facebook menyatakan bahwa resiko terbesar bagi pemimpin saat ini adalah tidak berani mengambil resiko. Untuk sukses di era dirupsi digital saat ini mendorong para pemimpin untuk mengubah model kepemimpinannya di tiga area yakni: bagaimana pemimpin berpikir (cognitive transformation), mengambil tindakan (behavioral transformation), dan bereaksi (emotional transformation).

Sementara Rhenald Kasali menyatakan bahwa saat ini para pebisnis offline harus lebih memanfaatkan teknologi jika ingin bisnis mereka tetap bertahan. Bahkan Rhenald menjelaskan lebih jauh bahwa saat ini para pebisnis offline juga harus lebih memperhatikan produk dan lokasi tempat mereka menjual.

Mereka harus lebih memanfaatkan teknologi dan  harus melihat di mana lokasi dan produknya seperti apa. Sekarang itu dengan adanya disruption harganya turun sekali. Hal Ini menciptakan pasar baru dan new market di mana saat ini ketika masyarakat membeli pakaian di online, masyarakat akan dapat lebih murah.

Menurut Rhenald sebenarnya bukan pendapatan masyarakat yang berkurang, tetapi daya beli masyarakat yang berubah. Masyarakat lebih memilih untuk membeli barang-barang online karena ketika masyarakat membeli barang-barang secar online, mereka bisa dapat lebih banyak dibanding mereka harus belanja langsung ke tempat perbelanjaan, misalnya mall.

Sementara itu, banyak pihak yang mengatakan bahwa saat ini pendapatan di desa menurut bisa dilihat dampaknya pada mall sepi adalah pendapat yang salah. Rhenald mengatakan hal tersebut tidak masuk akal, karena harusnya ketika mengatakan mengenai pendapatan desa menurun pengaruhnya ke pembelian pupuk yang berkurang atau pasar di desa tersebut sepi. Jadi, saat ini sebenarnya bukan pendapatan yang berkurang, tetapi orang-orang lebih memilih untuk belanja online karena lebih murah dan tidak perlu repot-repot keluar rumah.

Rhenald berharap para pekerja offline dapat mengerti bahwa disruption telah terjadi pada bisnis yang sedang mereka tekuni. “Disrupsi digital menempatkan perusahaan dan organisasi dalam perubahan yang sangat radikal dalam konteks sumber daya manusia, lingkungan kerja dan industri secara keseluruhan. Hal ini menjadi tantangan serius bagi para pemimpin dalam mengembangkan bisnis dan organisasi ke depan. Menjadi keniscayaan bagi para pemimpin bisnis memiliki ‘DNA digital’ guna mengelola dan memnafaatkan dengan baik perubahan model bisnis serta pendekatan manajemen baru dalam kancah ekonomi yang makin digital,” kata Agus Wicaksono. Chairman iCIO Community.

Survei yang baru saja dilakukan oleh Harvard Business Review menunjukkan bahwa 80% organisasi bisnis akan mengalami disrupsi dalam tiga tahun kedepan. Dalam risetnya bersama MIT akhir tahun lalu, 70% dari 1,000 CEO yang di interview (dari 131 negara dan 27 industri) percaya bahwa mereka tidak punya keahlian dan pemimpin serta struktur operasi yang tepat untuk beradaptasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *