Survei Microsoft di 14 Negara Laporkan 89% Responden Kerja Pakai Perangkat Mobile

Hadirnya mobilitas dan proliferasi teknologi mobile dan komputasi awan, memudahkan pekerja untuk bekerja pada beberapa lokasi berbeda dalam berbagai perangkat. Hasil survey Microsoft membuktikan bahwa 89% response mengaku bekerja menggunakan smartphone. Hal ini membuat perusahaan untuk meningkatkan keamanan baru.

Sebagian besar pemimpin perusahaan di Indonesia mengakui perlunya melakukan transformasi menjadi bisnis digital dan sumber daya manusia tetap menjadi pendorong utama transformasi digital. Hal ini untuk merespon perubahan kebiasaan pekerja atau budaya kerja pekerja. Perusahaan atau organisasi harus melakukan investasi untuk pengembangan budaya kerja.

Microsoft Asia Workplace 2020 melakukan studi atau survey selama Februari hingga Maret 2017. Mereka melibatkan 4.175 responden di 14 negara: Australia, Tiongkok, Hong Kong, Indonesia, India, Jepang, Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Untuk Studi di Indonesia, Microsoft melibatkan 312 responden.

Seluruh responden harus menghabiskan waktu paling sedikit 30 jam setiap minggunya untuk bekerja (fungsi full-time), atau paling sedikit 20 jam setiap minggunya untuk bekerja (fungsi part-time). Sekitar 57% responden menyatakan untuk sukses di transformasi digital, perusahaan atau organisasi sebaiknya lebih banyak  melakukan investasi pada pengembangan budaya.

Untuk budaya kerja di Indonesia, studi Microsoft menemukan beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu naiknya jumlah pekerja mobile dan risiko keamanan baru yang muncul. Studi ini menemukan hanya 15% responden yang menghabiskan seluruh waktu bekerjanya di dalam kantor, sementara 89% responden mengaku bekerja menggunakan smartphone mereka. Sementara itu, terjadi peningkatkan tantangan keamanan baru bagi organisasi organisasi.

Faktor lainnya, naiknya jumlah tim yang beragam. Studi ini menemukan, 40% pekerja di Indonesia telah bekerja pada lebih dari 10 tim yang berbeda dalam satu poin waktu. Hal ini membuat ketersediaan sudut pandang secara langsung serta alat-alat untuk berkolaborasi menjadi sangat penting untuk dapat menyelesaikan pekerjaan.

Kemudian terjadinya kesenjangan dalam keterampilan digital karyawan. Meskipun pemimpin telah bergerak untuk menyambut transformasi digital dan penggunaan teknologi baru sudah diadopsi di berbagai sektor industri, tetapi penyebarannya tidak merata. Sekitar 62% responden merasa bahwa ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjembatani kesenjangan keterampilan digital diantara pada pekerja.

Melihat kafta dan faktor tersebut, Marketing & Operations Lead Microsoft Indonesia Linda Dwiyanti menyatakan naiknya penggunaan teknologi digital dan bersamaan dengan generasi milenial mulai bekerja, membuat sangat penting untuk mengetahui dan mengubah ekspektasi pekerja yang terus berubah baik pengetahuan maupun keterampilan, serta alat-alat yang dipakai.

“Menariknya setengah dari populasi milenial dunia tinggal di Asia, karena itu  lingkungan kerja perlu bertransformasi untuk beradaptasi dalam kebiasaan-kebiasaan teknologi yang digunakan generasi melek digital. Adanya penyebaran teknologi maju dan baru membuat organisasi perlu kembali mengedukasi ulang para pekerja dalam membangun keterampilan kreatif dan strategis di masa mendatang.” tambah Linda.

Tantangan yang hadapi perusahaan adalah bagaimana mengimplementasi cara baru untuk menciptakan budaya modern demi memberdayakan pekerja di Asia dengan lebih baik, khususnya mereka yang bekerja di garis depan (frontline). “Sumber daya manusia merupakan denyut nadi dari transformasi digital. Ekspektasi, pengetahuan dan keterampilan, serta alat-alat yang mereka gunakan untuk bekerja, merupakan faktor penentu dari level transformasi yang dapat dicapai oleh tiap organisasi. Diperkirakan, ada dua miliar pekerja frontline di dunia, yang merupakan persentase terbesar dari total pekerja dunia hari ini,” jelas Linda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *