Kioson, Perusahaan Rintisan Publik Pertama di BEI

PT Kioson Komersial Indonesia Tbk, perusahaan e-commerce Online-to-Offline (O2O) menjadi perusahaan rintisan (startup) pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Kioson menggelar paparan publik (Public Expose) untuk mendukung rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) guna memperkuat fundamental perusahaan dalam jangka panjang.

IPO Kioson sebagai pilihan terbaik untuk memperkuat fundamental perusahaan agar kinerja bisnis dapat tumbuh berkelanjutan. Kioson menawarkan layanan sebagai platform Online-to-Offline (O2O), dan mengambil peran sebagai jembatan antara underserved market dengan teknologi digital.

Hasil survei indikator TIK 2015 Kementerian Informasi dan Komunikasi Republik Indonesia, dari total pengguna internet sebanyak 93,4 juta orang, hanya sekitar 8,7 juta orang yang aktif sebagai online shopper.

Co-Founder Kioson Jasin Halim menyampaikan bahwa rencana IPO ini sebagai bagian dari strategi melaksanakan misi sebagai jembatan antara underserved market dengan teknologi digital. “Pasar yang belum terlayani oleh dunia digital masih sangat luas. Tiga hal utama yang menjadi penghambat, yaitu pembayaran, logistik, dan kepercayaan terhadap e-commerce. Kioson mengusung tagline Semua Bisa Online, akan menghadirkan solusi atas hambatan tersebut. Kioson akan menjadi perusahaan rintisan (startup) pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia.” urai Jasin.

Kioson rencananya menawarkan sebanyak-banyaknya 150 juta lembar saham atau sekitar 23,07% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan Penawaran Umum Perdana Saham dengan harga Rp280 – Rp300,- per lembar saham. Penjualan ini untuk memperoleh dana dari hasil IPO sebanyak Rp 42 – Rp45 miliar.

Kioson juga menerbitkan sebanyak-banyaknya 150 juta Waran Seri I yang menyertai saham barunya atau sebanyak-banyaknya 30% dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh untuk diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi para pemegang saham. Rencana IPO Kioson mempercayakan PT Sinarmas Sekuritas sebagai underwriter.

Dua pertiga perolehan dana hasil IPO akan digunakan Kioson untuk mengakuisisi PT Narindo Solusi Komunikasi (“Narindo”) dan selebihnya, akan digunakan untuk modal kerja. Jasin  mnguraikan bahwa akuisisi Narindo akan memperkuat struktur dan menambah portofolio Perseroan, sehingga akan memberikan kontribusi positif kepada kinerja keuangan Perseroan.

Sesuai visi pemerintah Indonesia yang menargetkan menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020. Kioson menawarkan layanan  untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selaku kios-kios mitra Kioson. Kioson berharap dapat berperan menjadi gerbang dalam mengenalkan dunia digital kepada underserved market.

Layanan Kioson juga akan membantu konsumen melakukan pembayaran dan mendapatkan layanan logistik. Agar terbangun kepercayaan masyarakat terhadap e-commerce dan dunia digital.

Sebagai gambaran, Kioson telah memiliki lebih dari 15.000 mitra kios yang tersebar di 384 kota di Indonesia hingga April 2017. Pada akhir 2017, perseroan menargetkan peningkatan mitra kios mencapai 100 persen.

Produk dan layanan di aplikasi Kioson, ada tiga kategori fokus, yakni layanan digital dan Payment Point Online Bank (PPOB), layanan Keuangan, serta layanan e-commerce. Kioson juga bermitra dengan perusahaan terkemuka antara lain perusahaan gadget, perbankan, asuransi, dan e-commerce.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 April 2017, omset Kioson sudah mencapai Rp 25,9 miliar dan total aset mencapai Rp 44,77 miliar atau naik sebesar 25,29% bila dibandingkan dengan aset per 31 Desember 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *