Sistem Layanan Kesehatan Butuh Teknologi yang Terkoneksi dan Terintegrasi

Philips merilis studi Future Health Index tahunan mengenai tantangan dan peluang yang dihadapi oleh sistem layanan kesehatan di seluruh dunia di tengah usaha beralih ke model kesehatan yang lebih terintegrasi demi memenuhi tantangan kesehatan saat ini dan masa depan.

Future Health Index menyatakan bahwa upaya pencegahan dan teknologi kesehatan yang terkoneksi, seperti alat pendeteksi kesehatan, perangkat monitoring kesehatan di rumah, alat komunikasi elektronik langsung antara pasien dan dokter serta alat monitoring pasien jarak jauh memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan sistem layanan kesehatan di seluruh dunia. Namun sayang, kenyataannya alat-alat tersebut belum dimanfaatkan sepenuhnya.

Negara Indonesia pada tahun 2025 akan memiliki jumlah populasi lanjut usia atau lansia sekitar 36 juta jiwa dan angka penyakit kronis di kalangan generasi muda semakin meningkat. Untuk membantu Indonesia, Philips mengungkapkan sejumlah tren untuk mengatasi masalah yang dihadapi sistem kesehatannya pada dekade mendatang.

Berdasarkan survei terhadap lebih dari 33.000 orang di 19 negara, Future Health Index menunjukkan lebih dari setengah atau 55 persen populasi di negara-negara berkembang percaya bahwa tenaga profesional kesehatan harus memberikan sebagian besar waktu dan sumber daya mereka untuk upaya menjaga kesehatan. Sementara itu, 69 persen tenaga profesional kesehatan di Negara berkembang juga percaya bahwa mereka harus fokus pada upaya pencegahan daripada pengobatan.

Laporan Future Health Index menyoroti bahwa banyak orang di negara-negara berkembang menganggap mereka lebih sehat daripada kondisi sebenarnya. Hanya sepertiga dari jumlah responden di negara-negara berkembang menilai kesehatan mereka sendiri buruk. Sebagai perbandingan, lebih dari setengah atau 55 persen tenaga profesional kesehatan di negara-negara berkembang menilai kesehatan masyarakat umum di negara mereka buruk.

Pencegahan menjadi satu-satunya cara yang berkelanjutan untuk mengurangi beban pada sistem layanan kesehatan, karenanya masyarakat harus mulai menyadari manfaat dari ‘upaya pencegahan’. “Kita semua harus mengubah pola pikir dasar untuk lebih bertanggung jawab atas kesejahteraan kita sendiri, dan mengambil langkah agar tetap sehat sebelum jatuh sakit,” kata Direktur Utama Philips Indonesia, Suryo Suwignjo.

Future Health Index menunjukkan teknologi kesehatan yang terkoneksi memiliki peran penting dalam memberikan layanan kesehatan masa depan. Dari 19 negara yang disurvei, baik tenaga profesional kesehatan maupun masyarakat umum melihat, potensi teknologi kesehatan yang terkoneksi dapat memperbaiki berbagai permasalahan kesehatan.

Laporan ini menemukan bahwa tingkat penggunaan mengindikasikan bahwa teknologi belum digunakan semaksimal mungkin untuk mengatur dan memantau kesehatan.

Melihat hal itu, upaya lebih keras diperlukan untuk mendorong masyarakat agar memiliki rasa kepemilikan atas rekam medis mereka sendiri. “Dengan teknologi, kita dapat membuat akses, dan mewujudkan harapan pasien di Indonesia memiliki rekam medis elektronik menjadi kenyataan. Pasien yang terinformasi dengan riwayat dan status kesehatan, akan lebih proaktif dalam mengelola kesehatan dan melacak perkembangan pengobatan mereka,” jelas Suryo.

Surya menambahkan bahwa hasil Future Health Index ini menunjukkan, sistem layanan kesehatan di seluruh dunia mulai melihat manfaat besar dari teknologi kesehatan yang terkoneksi dalam upaya membantu masyarakat mengelola kondisi mereka lebih baik dan mendorong fokus pada upaya pencegahan.

Namun, perlu disadari perjalanan masih panjang untuk bisa sampai pada situasi teknologi digunakan secara maksimal. Pemerintah Indonesia perlu memperhatikan hasil laporan ini dan segera mempelajari bagaimana caranya memanfaatkan teknologi untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *