Dunia Alami Kelangkaan SDM TI Terampil Tahun 2020

Era digital saat ini membuat permintaan Sumber Daya Manusia (SDM) terampil tinggi terutama di bidang Teknologi Informatika (TI). Ini sebuah tantangan bisnis untuk  memenuhi gap yang ada dengan lahirnya digitalisasi bisnis. Untuk merespon kelangkaan SDM TI terampil, PT Computrade Technology International (CTI Group) membentuk Dua Anak Usaha Baru.

Kelangkaan sumber daya manusia terampil di bidang teknologi informatika, menurut Riset Manpower Group tercatat TI menempati posisi teratas daftar kelangkaan SDM di 2016, naik tujuh peringkat dari tahun sebelumnya.

Lembaga riset Frost & Sullivan memprediksi pada 2020 akan ada sekitar 1,5 juta posisi lowong di bidang cyber security seiring dengan meningkatnya ancaman keamanan di era IoT di mana milyaran perangkat terkoneksi oleh jaringan internet.

CTI Group, penyedia solusi infrastruktur TI, merespon hal itu dengan membentuk dua anak perusahaan baru, yaitu PT Inovasi Informatika Indonesia (i-3) yang bergerak di bidang edukasi dan PT Defender Nusa Semesta (Defenxor) sebagai penyedia managed security services.

“Kehadiran inovasi digital tentunya menjadi angin segar bagi pelaku bisnis untuk membuka peluang baru dan meningkatkan growth, namun strategi digital perusahaan tidak mungkin berjalan tanpa adanya SDM TI terampil. Perusahaan tidak lagi hanya mencari lulusan TI biasa tapi mencari talenta yang memiliki keterampilan yang lebih spesifik, misal spesialis di data mining, analisis dan cyber security.” tegas Presiden Direktur CTI Group Harry Surjanto.

Harry menambahkan dampak dari kelangkaan ini sangat signifikan, di antaranya potensi kehilangan pendapatan, pengembangan produk yang lamban, perluasan pasar yang lamban, atau bahkan kelelahan dan ketegangan karyawan di tim TI.

Agar perusahaan dapat bersaing maka perusahaan harus meningkatkan skill SDM TI melalui training, merekrut talent berkualitas atau menggunakan layanan outsource untuk membantu menghandle kebutuhan dan workload TI.

Untuk membantu meningkatkan ketrampilan, CTI membentuk PT Inovasi Informatika Indonesia (i-3) dengan meyediakan layanan training bersertifikat internasional. CTI membantu profesional TI dan juga non TI yang menjadi pengguna network perusahaan untuk mencapai potensi maksimal. Saat ini I-3 menjadi pusat pelatihan resmi untuk solusi Oracle, EC-Council, EMC, Redhat, VMware, Comptia, dan Pearson.

Selain itu, i-3 juga menyediakan solusi infrastruktur TI dan layanan konsultasi untuk meningkatkan kapasitas TI para pelanggan, misalnya layanan solusi keamanan TI, open source, virtualisasi dan cloud, serta database.

“Kebutuhan perusahaan akan profesional TI yang bersertifikat internasional terus meningkat dalam upaya mendorong efisiensi, memangkas biaya, serta membangun keunggulan kompetitif di pasar.” ujar Presiden Direktur i-3 Ronny Christian.

i-3 merupakan anak perusahaan CTI Group yang lahir pada 2015 dengan Oracle sebagai produk pelatihan pertamanya. i-3 mempekerjakan tenaga pengajar profesional yang tidak hanya mengedepankan teori tapi juga praktek berdasarkan real-life experience. Melalui kurikulum yang berbasis kompetensi, fasilitas Technology Center, dan instruktur yang berpengalaman, i-3 menciptakan generasi ahli TI yang kompeten dan berkualitas.

Kelangkaan SDM TI terampil juga bisa diatasi dengan memanfaatkan jasa managed service provider untuk membantu mengelola kebutuhan keamanan TI perusahaan dan bertindak sebagai ahli yang memberikan rekomendasi guna meningkatkan performa bisnis maupun mencegah risiko.

Solusi dan layanan jasa managed service provider bisa di berikan CTI Group melalui anak usaha Defenxor selaku managed security service provider (MSSP). Mereka bisa membantu melindungi aset perusahaan dari ancaman serangan siber melalui proses monitoring 24 jam dan manajemen fungsi keamanan TI.

Defenxor memiliki solusi yang terbagi menjadi tiga lingkup, yaitu: DIMS (Defenxor Intelligence Managed Security) yang melakukan fungsi monitoring dan manajemen kemanan dengan memasang appliance di kantor pelanggan dan dimonitor secara remote dari fasilitas Security Operations Center (SOC) milik Defenxor.

Mereka bisa bertindak sebagai konsultan TI (Defenxor Intelligence Security Consulting) perihal kebutuhan security implementation, vulnerability test dan pendampingan untuk mendapatkan sertifikasi kemanan TI. Selain itu, sipa melayani layanan DISI (Defenxor Intelligence Security Integrator) yaitu penyediaan produk maupun solusi keamanan TI seperti firewall, Anti-Malware, IPS (Intrusion Prevention System), WAF (Web Application Firewall).

“Dengan meningkatnya penggunaan cloud, komputasi mobile, Internet of Things, serta jumlah serangan cyber, kebutuhan akan tenaga kerja cyber security yang handal sangat penting. Namun berbagai kendala seperti kesiapan SDM menjadi tantangan yang tidak kunjung teratasi.” kata Presiden Direktur Defenxor Toto A. Atmojo,

Toto menyampaikan untuk menjalankan proses ini secara in-house, mulai dari memonitor, memvalidasi log dan menindaklanjuti insiden security, sangat menjemukan dan memakan waktu. Tantangan ini yang ingin kami jawab melalui kehadiran para security expert kami yang dapat mengambil alih tugas tersebut sehingga organisasi bisa lebih fokus menjalankan bisnis intinya.

Defenxor, anak perusahaan CTI Group, sebagai penyedia keamanan TI bagi organisasi yang bertugas melindungi aset bisnis dengan meningkatkan kondisi keamanan informasi pelanggan secara komprehensif. Defenxor telah menjalin aliansi dengan platform keamanan terkemuka, mitra bisnis di bidang infrastruktur TI, analis industri, dan komunitas keamanan lokal untuk memungkinkan implementasi solusi yang komprehensif, hemat biaya dan terspesialisasi untuk setiap lingkungan bisnis dan tujuan klien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *